Belajar di Sekolah Ongko Loro

    8

    Informasi Menarik Terbaru – Informasi terbaru tentang
    Belajar di Sekolah Ongko Loro


    Jejak sejarah sang Proklamator Indonesia, Soekarno, masuk berbekas di Mojokerto. Semasa kecil, Koesno Sosrodihardjo, yang lalu berganti nama menjadi Soekarno pernah mengenyam pendidikan di Mojokerto. Walau diketahui cerdas, tetapi dia pernah tinggal kelas kali duduk di sekolah dasar.

    Semisal yang diungkapkan Ayuhanafiq, sejarawan asal Mojokerto. Pada awalnya, Soekarno masuk sekolah dasar di Tulungagung. Tapi, tak lawas lalu, sebab misi dari bapaknya, Soekemi Sosrodihardjo, sebagai guru mengharuskan dia untuk pindah ke Mojokerto.

    Menurutnya, Soekemi ditempatkan sebagai guru di Inlandsche School yang sekarang menjadi SDN Purwotengah. Inlandsche School pun biasa diketahui pula dengan Sekolah Ongko Loro. Sebutan mengacu pada peruntukannya yang menampung anak-anak pribumi, warga kelas dua. ’’Soekarno juga akhirnya masuk menjadi siswa sekolah pribumi ,’’ ulasnya.

    Di sekolah yang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar , Soekemi berkedudukan selaku mantri guru. Jabatan setara dengan kepala sekolah yang tak bisa didudukinya. Pasalnya, hanya orang berkebangsaan Belanda atau Eropa yang boleh menjadi kepala sekolah.

    Pria yang akrab disapa Yuhan ini, mengemukakan, Soekarno merasakan pergaulan yang menyenangkan bersama kawan-kawan sesama pribumi. Tetapi, pemikiran orang tuanya yang ingin Soekarno boleh melanjutkan ke sekolah lebih tinggi lagi menimbulkan dia pindah ke sekolah Eropa di Mojokerto.

    Dia menjabarkan, pada waktu pastinya sudah ada sejumlah macam sekolah sesuai dengan segmen siswa. Sudah ada sekolah Tionghoa, madrasah untuk pribumi muslim dan pun ditemukan sekolah untuk keturunan Eropa yang dinamakan Europesche Lerge School (ELS) atau yang kini menjadi SMP Negara 2 Mojokerto.

    ELS hanya menerima murid yang berasal dari orang Eropa dan keturunan priyayi. Soekarno menyatakan jika dirinya boleh masuk ke ELS bukan sebab dia dinilai pandai, tetapi sudah ada jaringan dengan Kepala Inlandsche School. ’’Lalu ayahnya minta supaya kepala sekolah menolong memasukkan Soekarno ke ELS,’’ paparnya.

    Akhirnya, pada Juni 1911, Soekarno dipindahkan ke ELS. Tidaksama dengan sekolah pribumi yang dindingnya terbuat dari bambu, tapi dinding ELS telah terbuat dari kayu. Meja dan kursi pun berbahan kayu. Selain itu sekolah pribumi duduk di bangku bambu. Meja belajar dilengkapi dengan kandang meletakkan tinta. Sudah ada pula laci untuk menaruh buku.

    ELS pastinya memakai standar pendidikan Belanda sesuai dengan murid yang dididik di sana. Bahasa pengantar memakai bahasa Belanda sebab salah satu tujuan ELS untuk memasukan karyawan pemerintahan Hindia Belanda.

    Keahlian membaca tulis bahasa Belanda menjadi salah satu acuan utama. Lulusan ELS bisa melanjutkan jenjang pendidikan setelah itu. Boleh pun langsung bekerja sebagai tenaga kerk atau juru tulis rendah di kantor pemerintah. ’’Pendek kata, ELS ialah pintu gerbang ke waktu depan yang lebih baik,’’ kata Yuhan.

    Tetapi, dengan iklim sekolah yang sekian, ternyata menciptakan Soekarno kurang senang. Dia terpaksa berpisah dengan sahabat sebaya yang telah menganggap Soekarno sebagai pemimpin kali bermain. Dia sedih karena merasakan diskriminasi di ELS.

    Kerap mungkin dia berkonflik dengan siswa lain keturunan Eropa yang merendahkan dia sebagai anak inlander. Tak jarang dia menerima perlakuan kasar dan hinaan saat masuk kelas. Dan Soekarno berani mengalami keadaan itu.

    Soekarno masuk ke ELS saat dia kelas VI. Sebelum diterima, dia mengalami uji keahlian akademik terlebih dulu. Hasilnya, Soekarno dinyatakan gagal. Kepala Sekolah ELS menyatakan nilai ujiannya baik kecuali untuk keahlian bahasa Belanda. Oleh sebab , Soekarno mesti rela turun satu tingkat untuk duduk kelas V.

    Melihat kenyataan , Soekarno merasa malu sebab usianya terlalu tua duduk di kelasV. Terlebih, dia khawatir orang beranggapan dirinya bodoh sehingga turun kelas. Yuhan membeberkan, untuk menyiasati kedua masalah psikis , ayahnya menyuruh Soekarno berbohong kalau sudah ada yang menanyakan usianya. Sebab dia selalu menyampaikan umurnya lebih rendah satu tahun dari usia sebenarnya.

    Selain itu untuk persoalan ketertinggalan bahasa Belanda, ayahnya meminta Maria Paulina untuk memberi pelajaran tambahan satu jam semua harinya. Keahlian bahasa Soekarno menjadi terasah dengan bantuan Maria Paulina yang pun gurunya di ELS.

    Di samping , Soekarno pun dekat dengan siswi ELS bernama Rika Meelbuysen. Dengan wanita dia tentu bercengkrama dengan bahasa Belanda. Keakraban yang berbuah jalinan asmara manusia beda bangsa. Yuhan menegaskan, perjalanan pendidikan sang Proklamator di Mojokerto pun disebutkan pada buku Bung Karno ’’Penyambung Lidah Rakyat’’ semasa kecil dia bersekolah di Inlandsche School sebelum pindah ke ELS.

    (mj/ram/ris/JPR)


    terima kasih telah baca informasi tentang
    Belajar di Sekolah Ongko Loro

    Sumber

    قالب وردپرس