Konsolidasi Bakal Calon Presiden RI, Ini Tanggapan Pengamat Politik Untan

    11

    Informasi Menarik Terbaru – Informasi terbaru tentang
    Konsolidasi Bakal Calon Presiden RI, Ini Tanggapan Pengamat Politik Untan


    Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rizky Prabowo Rahino

    TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Pengamat Politik Untan DR Jumadi memberikan tanggapan terkait konsolidasi jelang Pilpres 2019 yang digunakan oleh bakal calon Presiden RI Periode 2019-2024 Jokowi maupun Prabowo.

    Semisal dikenal, Jokowi berkonsolidasi dengan projo-nya. Sementara , Prabowo memperoleh rekomendasi Ijtima dari Ulama.

    Membaca: PAN Kota Pontianak Optimis Prabowo Sandi Menangi Pilpres

    Membaca: Deklarasi Pileg Dan Pilpres 2019, Ini Harapan Ansor Sanggau

    Perhatikan tanggapan lengkapnya pada tulisan berikut ini :

    “Ini semacam kompetisi politik. Ialah masalah yang wajar terjadi kalau setiap kekuatan membangun basis kekuatan.

    Aku pikir  tak sudah ada masalah istimewa. Tinggal yang terpenting ialah di tengah kompetisi politik ini yaitu membangun kedewasaan penduduk supaya menyikapi secara lebih dewasa sehingga semacam persaingan politik yang segar terjadi.

    Ijtima Ulama yang digunakan harus kami hormati, semacam opsi politik. Lalu, Jokowi menjalankan konsolidasi dengan Projo-nya pun kami hormati sebagai bentuk konsolidasi kekuatan politik pun.

    Untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang, aku menilai agak beda sedikit dengan Pilpres 2014 kemudian. Sebab dengan fragmentasi calon contohnya Jokowi dengan Dengan’ruf Amin, lalu Prabowo dengan Sandiaga Uno. Nuansa-nuansa yang bersifat SARA semisal yang terjadi pada Pilres 2014 kemudian, aku pikir agak berubah kelak.

    Tagline politik dan isu yang dibangun pun lebih terkait dengan persoalan-persoalan keadaan Indonesia kali ini. prediksi aku. Tetapi, artinya bukan tak sudah ada sama sekali. tetap sudah ada, tetapi tak begitu kental jika dibandingkan Pilpres 2014 kemudian.

    Contohnya, kini sudah ada timbul pernyataan Dengan’ruf Amin dan Yenny Wahid yang menyebutkan Nahdlatul Ulama (NU) pun tak bulat. Sudah ada NU struktural dan kultural. Lalu, partai-partai koalisi yang mendukung Prabowo-Sandiaga Uno semisal Partai Demokrat pun  tak begitu seutuhnya solid. Demokrat memperbolehkan kadernya untuk memilih Jokowi.

    Suasana Pilpres 2019 agak tidaksama dibandingkan Pilpres 2014. Apalagi Pilpres dan Pemilihan Legislatif (Pileg) bersamaan. Jadi, fragmentasi kepentingan tak fokus pada Pilpres. Fragmentasi politik pun terpencar ke kepentingan-kepentingan individu pada partai politik untuk mendapat kursi yang signifikan baik di DPRD kabupaten/kota,Provinsi dan DPR RI.

    Sebab pastinya kalau dilihat dari survei LSI Denny JA terbaru, kan survei sementara sifatnya. Aku tak melihat siapa yang lolos Parliamentary Threshold (PT) sebanyak empat persen ke parlemen. Tetapi, aku melihat effect-nya terjadi pada partai induk. Contohnya, saat berbicara Jokowi maka dari itu identifikasi orang tepat pada PDI Perjuangan. Kemudian, kalau berbicara Jokowi maka dari itu identifikasi orang tepat pada PKB.

    Begitu pun saat berbicara Prabowo dan Sandiaga Uno, maka dari itu identifikasi orang tepat ke Partai Gerindra. Jadi, aku melihat fragmentasi politik tepat hendak terjadi. Tak hanya fokus pada Pilpres saja, tetapi Pileg pun hendak jadi perhatian calon legislatif.

    Aku pikir jika Kalbar telah terbiasa dengan Pilkada. Suasana politik semestinya disikapi dengan tips dewasa. Ketidaksamaan opsi politik ialah masalah  yang wajar sebab ini demokrasi. Tetapi, yang terpenting buat kami ialah sebab ini zaman demokrasi digital maka dari itu penduduk harus cerdas. Lalu baca dan menyimak konten-konten yang dipublish di media sosial penting supaya tak terprovokasi dan mengarah ke hal-hal negatif.”.


    terima kasih telah baca informasi tentang
    Konsolidasi Bakal Calon Presiden RI, Ini Tanggapan Pengamat Politik Untan

    Sumber