Legum Herba ‘Terbangkan’ Rp 130 Juta ke Saku Petani

    13

    Informasi Menarik Terbaru – Informasi terbaru tentang
    Legum Herba ‘Terbangkan’ Rp 130 Juta ke Saku Petani


    “Pendapatan petani bawang merah di desa-desa pengembangan jagung di Malaka mencapai Rp 130 juta/ha. Nilai ini amat luar biasa buat petani Malaka. Sebelumnya tak pernah terjadi pada sejarah mereka boleh mendapat pendapatan semisal ini.”

    STEF Ludji (50) melangkah pelan menuju ruang pertemuan di Hotel On The Rock Kupang, Jumat (22/6/2018). Anggota Kelompok Tani Filadelfia dari Kabupaten Kupang bergabung bersama teman-temannya dari Kelompok Tani Menyukai Maju dan Miara Muri.

    Stef, bersama 42 peserta semisalnya dari Dinas Pertanian NTT, Dinas Pertanian Kabupaten Kupang, Dinas Peternakan NTT dan LSM, mengikuti workshop tips merotasi tanaman legum herba dengan jagung sebagai inovasi sistem usaha tani di Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Workshop selama dua hari sampai Sabtu (23/6/2018) , diselenggarakan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT dan Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR), bekerjasama dengan Tubuh Riset dan Pengembangan Pertanian NTT.

    “Aku beruntung mengikuti workshop ini untuk menambah pengetahuan dan mengubah tips kita bertani. Ini masalah baru yang aku ikuti, mudah-mudahan sudah ada inovasi yang kita bisa untuk meningkatkan hasil usaha tani kita, khususnya jagung,” Stef berharap.

    Kepala BPTP NTT, Dr. Ir. Syamsuddin, M.Sc, saat membuka workshop menyebut NTT mempunyai lahan kering terluas di Indonesia. Dan, untuk mendukung software pemerintah yang menjadikan NTT sebagai Provinsi Jagung, workshop ini semoga bisa memberikan rumusan paket rekomendasi teknologi yang bisa diadopsi para petani NTT.

    “NTT memiliki karakteristik wilayah pertanian lahan kering, hampir sama dengan Australia. Masalah yang terjadi pun tak jauh beda. Produktivitas kurang dan di bidang peternakan tingginya kematian anak sapi. Australia amat bahagia dengan workshop ini untuk meningkatkan produktivitas para petani kami pada mengolah lahan,” Dr. Werner Stur, Direktur ACIAR Bidang Riset, menambahkan.

    Pencerahan gambaran materi yang disampaikan Syamsuddin dan Werner Stur menciptakan Stef Ludji dan para petani semisalnya amat bahagia sebab mereka masuk berusaha tani secara tradisional, selain kekurangan sarana dan prasarana. “Pastinya kita memperoleh penyuluhan dari penyuluh, tetapi hasilnya kurang maksimal,” katanya.

    Workshop hari pertama dibagi pada dua sesi. Pertama, penyajian hasil-hasil riset tentang inovasi integrasi tanaman herba dengan tanaman pangan (jagung/padi). Materi ini dipaparkan Dr. Evert Y Hosang. Kedua, sesi demo simple penanaman legum herba (menyiapkan benih, pemangkasan legum herba, produksi). Semuanya dipandu ahli lapangan ACIAR dan BPTP NTT.

    Hari kedua, para peserta menjalankan kunjungan lapangan pada lahan pertanian milik kelompok tani di Desa Oesao dan Bipolo, Kabupaten Kupang, binaan BPTP NTT. Di sini, Stef dan peserta semisalnya melihat dan belajar langsung tentang inovasi penanaman legum herba rotasi gandaria-jagung dan rotasi lamtoro-jagung dan teknik pengawasan perkembangannya sampai keuntungan yang berdampak pada produksi.


    terima kasih telah baca informasi tentang
    Legum Herba ‘Terbangkan’ Rp 130 Juta ke Saku Petani

    Sumber