Menikmati Nasi Tempong dan Hongkong di Madinah

    7

    Informasi Menarik Terbaru – Informasi terbaru tentang
    Menikmati Nasi Tempong dan Hongkong di Madinah


    KETIKA berada di luar negara, apalagi pada masa lawas, persoalan ini selalu timbul: makan. Banyak orang membutuhkan masa lawas. Untuk adaptasi. Melupakan masakan di rumah. Menyesuaikan taste masakan di negeri yang dikunjungi.

    tak simple. Banyak orang yang gagal. Tak boleh memakai masakan yang benar-benar baru. Asing. Persoalan tak hanya berhenti di lidah. Tetapi pun di perut. Perut tidak pada masakan yang baru dikenalnya. Ditolaklah kiriman masakan yang telah terkunyah. Alias muntah.

    Aku bersyukur telah berkunjung ke banyak negeri. Dan makan masakan yang tidaksama. Alhamdulillah, sebab telah siap mental dari rumah, di negeri yang aku kunjungi enak-enak saja makan. Masakan apa saja, asal halal, aku makan. Prinsip aku: makan atau kelaparan. Kelaparan jika hanya sehari nomor masalah. Tetapi jika tak makan hingga berhari-hari tubuh yang kalah. Langsung drop. Ambruk. Jika telah begitu apa enaknya mengunjungi negeri lain. Tak boleh menikmati apa-apa. Sebab sehari-hari hanya jadi kembangnya kasur.

    Soal makan, Alhamdulillah, aku insya Allah boleh cepet adaptasi. Tergolong waktu umrah mungkin ini. Aku sebenarnya telah siap 1.000 persen untuk melahap daging unta. Atau nasi dari beras India. Yang bentuknya lebih panjang dari beras Banyuwangi. Yang rasanya tak sudah ada sama sekali. Sepoh.

    Tetapi tidak disangka, selama tinggal di Makkah dan Madinah aku bersama rombongan umrah PT Panji Mas Wisata (PMW) selalu makan makanan Indonesia. Di Makkah, kita sarapan, makan siang, dan makan malam di restoran Grapari. Di P3 (lantai 3?) Grand Zam-Zam Hotel. Restoran milik Pak Alif Rahman. Owner PT PMS. Aku lihat setiap jamaah makan lahap sekali. Tak terlihat sudah ada proses adaptasi. Maklum, selama empat hari di Makkah kita makan masakan menu Indonesia sangat. Mulai soto, rendang, sayur asem, kikil, telur balado, sambal teri, ayam goreng, pecel. Bakso, mie goreng, sop, gulai kepala ikan, dan bolo-bolonya.

    Saat pindah ke Madinah, menu-menu yang sama pun tersaji. Selama enam hari. Bahkan, di restoran Hotel Salihiyah aku dan jamaah PT PMW memperoleh menu tambahan. Menu favorit orang Banyuwangi: nasi tempong! ”Horee, akhirnya bertemu pun dengan nasi tempong,” sorak para jamaah.

    Jika nasi tempong Yu Nah dan Yu Tun masyhur pedasnya. Sebab dinamakan ”tempong”. Nasi tempong di Madinah panasnya Nauzubillah. Mulut rasanya semisal terbakar. Nyos. Kenyataannya, tak ranti.

    Sudah ada satu lagi masakan yang selalu tersaji semua hari. Yaitu, ote-ote. Orang Banyuwangi menyebutnya ”hongkong”. Alhamdulillah, sepuluh hari tinggal di Makkah dan Madinah serasa masuk di Banyuwangi. Semua hari makan menu-menu Banyuwangi. Menu Indonesia asli.


    terima kasih telah baca informasi tentang
    Menikmati Nasi Tempong dan Hongkong di Madinah

    Sumber

    قالب وردپرس