Review Film Alpha

11
Loading...
Copy

Informasi Menarik Terbaru – Informasi terbaru tentang
Review Film Alpha


loading…

JAKARTA – Selama puluhan ribu tahun, anjing telah menjadi kawan manusia, terutama untuk berburu. Banyak cerita yang menuturkan bagaimana anjing boleh menjadi kawan manusia. Dan, setiap cerita selalu menarik untuk diikuti.

Sejarah bagaimana anjing akhirnya boleh menjadi kawan manusia ini pulalah yang diangkat di film Alpha. Film besutan sutradara Albert Hughes ini dikemas dengan gaya penuturan sejarah dengan cerita petualangan yang tidak membosankan untuk disimak.

Alpha berlatar belakang kehidupan di waktu Paleolitikum Atas di Eropa sekeliling 20.000 tahun kemudian. Film ini menceritakan tentang semacam suku yang akan pergi berburu. Suku dikepalai Tao (Jóhannes Haukur Jóhannesson). Dan, untuk mungkin pertama, Tao membawa putranya, Keda (Kodi Smit-McPhee). Suku lalu bepergian selama berpekan-pekan ke kawasan kandang hewan cepat mereka.

Saat mereka mulai memburu bison dengan tips menghalang mereka di tepi jurang, seekor bison malah menyerang Keda. Akibatnya, Keda juga jatuh ke atas tebing dan tidak sadarkan diri. Tao juga sedih sebab tak boleh menyelamatkannya. Mengira Keda telah tewas, kelompok menjalankan ritual untuk orang yang meninggal dan meninggalkan kandang .

Sesudah kelompok suku pergi, Keda sadarkan diri. Dia berteriak memanggil ayahnya, tetapi tak sudah ada jawaban. Keda juga sadar bahwa dia sendirian.

Suatu malam, saat waktu beristirahat, dia diserang sekelompok serigala. Keda sukses melukai seekor di antaranya. Serigala yang terluka lalu ditinggalkan teman-temannya. Keda yang awalnya takut pada serigala akhirnya iba dan merawat serigala itu. Dia lalu memanggil serigala dengan nama Alpha.

Dari sinilah awal petualangan Keda dan Alpha dimulai. Awalnya, Keda menyuruh Alpha pergi sesudah hewan sehat dari lukanya. Tetapi, Alpha menolak dan terus mengikuti Keda.

Alpha mempunyai pendekatan menarik pada mengisahkan cerita petualangan Keda dan serigalanya. Film ini tak dibuat dengan dialog bahasa Inggris, melainkan bahasa kuno. Menariknya, penonton boleh menarik persamaan antara bahasa dengan bahasa Indonesia. Di film , Keda memanggil ayahnya dengan sebutan “ayah”, bukan “father”.

Walau tidak banyak memberikan kejutan, Alpha justru memanjakan mata penontonnya dengan pemandangan era es atau ice age yang spektakuler. Hughes menghadirkan bermacam hewan yang hidup di era , mulai dari badak sampai sekelompok mammoth dan singa yang menerkam di kegelapan. Selain , gunung api yang memuntahkan magmanya menjadi pemandangan tersendiri di film ini.

Film ini hendak memberikan pemandangan yang tidaksama dari film-film yang sudah ada kali ini. Tak sudah ada senjata modern atau gawai modern di film ini dan semuanya masuk digunakan secara manual dan herbal. Kepungan badai salju menciptakan cerita petualangan Keda dan Alpha menjadi lebih menarik untuk terus disimak. Apalagi, keduanya sama-sama kelaparan dan Alpha terluka sebab diserang singa.

Alpha ialah semacam film yang menuturkan sejarah dengan balutan drama petualangan yang tak berlebihan. Formulanya saat dan tak membosankan untuk disimak. Film ini saat dinikmati buat Kamu yang waktu bosan dengan rutinitas harian kali ini dan mau cari sesuatu yang tidaksama.

Alpha telah boleh disaksikan di semua bioskop di Tanah Air. Selamat menonton!


terima kasih telah baca informasi tentang
Review Film Alpha

Sumber

Loading...