Nadiem ungkap alasan kesediaannya menjadi menteri di kabinet Jokowi

Rate this post

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud-Ristek) Nadiem Makarim mengumumkan alasan menerima tawaran menjadi Menteri dalam Kabinet Indonesia Maju.

Nadiem mengatakan salah satu pertimbangan dalam pengambilan keputusan menjadi ajudan presiden adalah Indonesia masih mengalami kolonialisme.

“Bahkan jika kita tidak dijajah oleh orang asing, kita memiliki berbagai jenis kolonialisme di negara ini.

Penjajahan mental, diskriminasi, pendudukan sosial ekonomi, intoleransi,” kata Nadiem dalam diskusi virtual dengan Megawati Institute: Lokakarya Nasional Bung Karnos tentang Membaca Pemuda, Selasa (29.2020), 6./2021).

Baca Juga: Ada PPKM, Nadiem Tuntut Pembelajaran Pribadi Terbatas Mungkin Ditunda

Menurut Nadiem, penjajahan seperti itu harus ditumpas dari generasi muda ke depan. Dalam pandangannya, tujuan penurunan sejak generasi muda adalah untuk mengubah karakter generasi sebelumnya.

Salah satu strategi yang sedang digencarkan Nadiem untuk mengubah karakter ini adalah konsep Merdeka Belajar.

“Itulah mengapa seluruh platform pendidikan kami muncul dari filosofi Ki Hadjar Dewantara

dan Bung Karno, yaitu Kebebasan Belajar. Adalah filosofi para pendiri negara kita yang menyebut kebebasan berpikir, kebebasan dari kolonialisme mental, sebagai hal yang sangat penting. Dia menjelaskan.

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda.
email pendaftaran

Ia melanjutkan untuk mempelajari konsep kebebasan yang kemudian diusung pada gagasan profil siswa Pancasila yang menjadi tujuan transformasi pendidikan.

Nadiem mengatakan hal ini sedang ditingkatkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek).

Dalam gagasan Profil Mahasiswa Pancasila, Nadiem mengatakan ada beberapa hal diantaranya keragaman global, kemandirian dan gotong royong.

“Keragaman global membuat kita merasa menjadi bagian dari Indonesia, tetapi juga bagian dari kemanusiaan global. Kemerdekaan adalah titik berdiri di atas kedua kaki kita sendiri, karena siswa kita dapat belajar secara mandiri seumur hidup,” katanya.

Menurut Nadiem, konsep kemandirian nantinya juga harus menciptakan lapangan kerja bagi orang lain.

Baca juga: Nadiem: Kebebasan Belajar Mengutamakan Kebutuhan Siswa

Sementara itu, konsep Gotong Royong diharapkan dapat membuka sekat-sekat di ruang belajar mahasiswa, tidak hanya di kampus.

Perwujudan dari konsep Gotong Royong tersebut kini dikenal dengan Program Kampus Merdeka.

“Inti dari kebijakan kampus Merdeka ini adalah mendobrak sekat-sekat antara universitas dan industri, mendobrak sekat-sekat antar fakultas lain, mendobrak sekat-sekat antara penelitian atau pengajaran atau pengabdian kepada masyarakat. Di luar kampus juga bisa ada mini kampus selama satu semester,” kata Nadiem.

LIHAT JUGA :

serverharga.com
wikidpr.id
riaumandiri.id
dekranasdadkijakarta.id
finland.or.id
cides.or.id